MENGAJAK WARGA BENDOAGUNG UNTUK BERUBAH LEBIH BAIK
HARIAN MAS IMAM: PENGGERAK PERUBAHAN DI DESA BENDO AGUNG
Hari ini seperti biasa, pukul 06.30 pagi, Mas Imam sudah berada di Bank Sampah Mandiri Berkah – salah satu bank sampah yang ia bantu dirikan dan kelola hingga kini. Sebelum memulai aktivitas, ia dulu menghabiskan waktu sebentar untuk berdoa, memohon berkah agar pekerjaannya hari ini bermanfaat bagi semua warga. Tangannya yang terbiasa menangani sampah mulai memilah-milah hasil kumpulan dari warga sejak kemarin malam: plastik bersih di satu ember, kertas dan kardus di tempat lain, sedangkan sampah organik dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk.
Setelah menyelesaikan pemilahan pagi, ia mengambil spanduk bertuliskan “Sampah Kita, Uang Kita – Jaga Kebersihan Bendo Agung” dan berangkat keliling desa. Di gang kecil dekat pasar desa, ia menemukan beberapa kantong plastik yang dibuang sembarangan. Tanpa mengeluh, Mas Imam membersihkannya sambil menyapa warga yang lewat.
“Pak Slamet, nanti kalau ada sampah ya bisa dibawa ke Bank Sampah Mandiri Berkah aja ya, kita bisa tukar dengan uang atau bahan pokok lho. Tapi ingat ya, ‘dulukan ibadah, insya Allah dunia akan mengejar kita’ – artinya kalau kita duluin bersosial dan beribadah dengan benar, Allah akan menambah rezeki dari dunia dengan sendirinya. Ibadah bukan hanya shalat dan puasa saja, tapi juga menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk ibadah karena kita merawat nikmat yang Allah berikan. Begitu juga bersosial – ada konsep khusus yang kita jalankan di sini, yaitu ‘sedekah sampah’ dari warga,” ujarnya dengan senyum hangat saat bertemu salah satu warga.
Di halaman balai desa, ia mengadakan sosialisasi singkat untuk beberapa ibu-ibu yang sedang kumpul. Ia menjelaskan betapa pentingnya memilah sampah sejak rumah, mulai dari memisahkan jenis sampah hingga manfaatnya bagi kebersihan lingkungan dan perekonomian keluarga. *“Bank Sampah Mandiri Berkah ini kita dirikan bukan hanya untuk urusan sampah saja, tapi juga jadi sarana kita saling membantu dan ingat akan nilai-nilai kebaikan.
Nilai ibadah yang kita tanamkan di sini adalah bahwa setiap tindakan baik adalah ibadah – dari membuang sampah pada tempatnya hingga setiap usaha yang kita lakukan untuk kesejahteraan bersama. Sedangkan dari sisi sosial, kita menjalankan program ‘sedekah sampah’ di mana warga bisa menyumbangkan sebagian atau seluruh hasil pengumpulan sampah mereka. Pihak bank sampah kemudian akan menjual sampah tersebut dan langsung menyalurkan seluruh hasilnya kepada pihak yang membutuhkan, seperti keluarga kurang mampu di desa atau lembaga sosial yang bekerja untuk kesejahteraan masyarakat.
Kalau kita jaga kebersihan dan selalu prioritaskan hubungan baik dengan sesama serta dengan Allah, desa kita jadi aman, tentram, dan bahkan sampah bisa jadi sarana untuk berbagi kebaikan. Semoga Bendo Agung bukan hanya jadi desa bersih, tapi juga lebih maju dan baik dari hari ke hari – karena ketika hati kita bersih dan penuh rasa peduli, lingkungan dan kehidupan kita juga akan ikut bersih dan sejahtera,”* ucapnya penuh semangat, disambut sorak sorai dari hadirin.
Sore hari, setelah menerima dan mencatat sampah dari puluhan warga yang datang sendiri – sebagian di antaranya menyatakan ingin menyumbangkan hasilnya sebagai sedekah – Mas Imam merapikan area Bank Sampah. Ia melihat beberapa anak kecil sedang membantu orang tuanya membawa sampah, dan bahkan ada yang sudah bisa menjelaskan perbedaan sampah organik dan anorganik serta konsep sedekah sampah yang mereka pelajari dari orang tua – itu membuat hatinya merasa lega. Sebelum pulang, ia bersama beberapa pengurus bank sampah sudah mulai mencatat dan menghitung total hasil sampah yang akan disalurkan sebagai sedekah pada hari esok.
“Ini bukti bahwa kerja sama kita bukan hanya bermanfaat untuk dunia, tapi juga untuk akhirat kita,” ucap Mas Imam sambil menutup buku catatan hariannya.
Komentar
Posting Komentar